Irjen (purn) Drs.H. Anton Charliyan tersentuh hatinya untuk menjaga budaya sunda di Indonesia

Irjen. Pol. (Purn) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N.
Irjen. Pol. (Purn) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N.

Irjen (purn) Drs.H. Anton Charliyan tersentuh hatinya untuk menjaga budaya sunda di Indonesia

Kebudayaan bagi Anton Charliyan tidak hanya sebuah identitas semata.

Secara alamiah Anton Charliyan mendalami kebudayaan dari panggilan jiwa diri sendiri atas apa yang telah beliau lihat saat di Singkawang, Kalimantan Barat banyak orang-orang Tionghoa masih memelihara budayanya hingga saat ini, terlebih sejak 400 tahun yang lalu orang-orang Tionghoa mulai menginjakkan kaki di Indonesia dan hidup kawin silang dengan orang Indonesia sendiri.

Hal itu yang membuat mantan Kapolda Jawa Barat tersebut tergugah untuk menjaga dan merawat kebudayaan, khususnya Sunda sebagai entitas yang tergolong mayoritas di Indonesia.

Perkara mayoritas dan minoritas bukanlah suatu sikap penting bagi yang kerap di sapa Abah Anton ini.

Baginya perbedaan adalah sebuah keniscayaan.

Karena jika satu kelompok tidak saling menghargai dan merasa “paling” dari pada kelompok lain maka akan menimbulkan perpecahan.

Untuk itu, ia khawatir bila generasi muda saat ini tidak memahami esensi budaya sebagai jati diri, maka tidak heran jika yang terjadi saat ini degradasi moral dan akhlak karena sukar untuk menjaga, merawat, dan melestarikan sebuah kebudayaan.
Itulah mengapa Abah Anton memandang bahwa budaya bukan hanya identitas kultur belaka.

Jauh daripada itu melalui budaya, manusia dapat memahami kehidupannya.

Memahami budaya secara esensi dan spiritualnya untuk menyatu kepada Sang Pencipta Alam Semesta dan berdamai pada diri sendiri maupun lingkungannya.

Budaya yang kental akan sejarah menjadikannya sebagai suatu bacaan zaman atas apa yang terjadi di masa lalu, kini, dan nanti.

Cakra Manggilingan yang terus berputar mengartikan Sunnahtullah kehidupan alam dan sosial akan terus bergulir.

Antara kehidupan yang terang menuju gelap, begitupun sebaliknya kehidupan gelap menuju terang.

Dalam kutipannya, Abah Anton mengatakan, “Babad saat ini adalah babad mengisi dan memasuki gerbang kearah Gemah Ripah Loh Jinawi, Karena kalau membuka Gerbang sudah dimulai sejak zaman Kemerdekaan Thn 1945.” Tuturnya.

Yati.S Wartawan Nasional

16220055377064242910

Berita Terbaru

Daftar Kategori

Berita Teknologi

Berita Populer