Hangat Isu Reshuffle Kabinet Jokowi-Amin Jilid-1, Maya Nindya: Menteri Harus Memiliki Jiwa Kepemimpinan Yang Kuat Menggerakkan Seluruh Jajaran Secara Terkoordinasi Agar Mencapai Hasil Nyata, Efektif Dan Efisien

PicsArt_12-14-09.22.57

Jakarta – Tahun 2020–2030 adalah dekade sangat penting sebagai batu lompatan dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju Golden Indonesia 2045. Oleh karena itu diperlukan tim yang kuat kapabilitasnya untuk mendukung Presiden RI, Ir. Haji. Joko Widodo (Jokowi) agar dapat mencapai semua sasaran yang telah ditetapkannya.

Apalagi belakangan banyak sekali tantangan berat yang dihadapi oleh negara ini, antara lain terpuruknya perekonomian Indonesia karena pengaruh pandemi COVID-19, maraknya isu intoleransi dan integrasi bangsa, dan sejumlah isu lainnya.

Pekerjaan seorang presiden tidaklah mudah dan oleh karena itu Presiden Jokowi perlu dibantu oleh para menteri yang tidak saja harus loyal namun sekaligus kreatif dan inovatif dalam rangka melakukan penciptaan nilai konkrit bagi bangsa dan negara.

Para menteri tersebut harus dapat menerjemahkan visi Presiden Jokowi dalam berbagai kebijakan yang dibuatnya serta menjamin agar kebijakan tersebut dapat terimplementasi dengan baik sehingga pada gilirannya dapat memberikan dampak positif signifikan bagi para pemangku kepentingan terutama rakyat Indonesia sebagai konstituen tertinggi.

Wakil Direktur Eksekutif Purworejo Center, Maya Nindya, SE, MBA mengatakan, berkenaan dengan hal tersebut, para menteri harus berani menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan harus berani mengambil risiko yang penuh dengan perhitungan manfaat dan mudaratnya dalam berbagai keputusan atau kebijakannya.

“Seorang menteri juga harus memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat agar dapat menggerakkan seluruh jajaran di bawahnya secara terkoordinasi agar dapat mencapai suatu hasil nyata secara efektif dan efisien,” ujar Maya Nindya, SE, MBA dalam keterangannya, Senin (14/12/2020).

Maya menegaskan, Presiden Jokowi telah menyatakan bahwa dia berani mempertaruhkan reputasi politiknya demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Totalitas Presiden Jokowi harus menjadi contoh dan diikuti oleh para pembantunya dalam kabinet yang telah dibentuk dibentuknya.

“Para menteri dinilai bukan dari popularitasnya karena sering tampil di layar televisi, media konvensional lainya, atau berbagai media sosial namun semata dilihat dari kinerjanya yang nyata serta juga bukan dari berbagai wacana hebat yang tidak jelas eksekusinya,” tegasnya.

Intinya, sambung Maya, kinerja para menteri dilihat dari hasil nyata yang dapat diberikan bagi bangsa dan negara. Presiden Jokowi tentunya memiliki berbagai ukuran yang jelas dan obyektif untuk mengevaluasi para menterinya yang dapat dipergunakan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan untuk melakukan reshuffle kabinetnya.

Selain itu, Presiden Jokowi juga dapat melihat apakah para menteri tersebut konsisten mengacu pada visi presiden bukannya kemudian mengembangkan visinya masing-masing. Presiden Jokowi juga dapat melihat apakah para menteri tersebut cenderung mengutamakan ambisi pribadi atau kelompoknya atau benar-benar menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utamanya.

Apabila ternyata Presiden Jokowi melihat ada menterinya yang tidak memenuhi berbagai kriteria yang telah ditetapkannya maka jangan salahkan Presiden Jokowi apabila pada suatu waktu nanti dia mengambil keputusan untuk mengganti satu atau lebih menteri yang sekarang ada dalam kabinetnya.

“Apabila penggantian tersebut memang kuat alasannya dan tujuannya adalah untuk kebaikan bangsa dan negara maka keputusan tersebut harus didukung sepenuhnya oleh semua pihak,” paparnya. (harianterbit.com)

16220055377064242910

Berita Terbaru

Daftar Kategori

Berita Teknologi

Berita Populer